EVERYTHING TAKES TIME

“Ih bagus banget, pingin jadi kayak mereka.”

“Eh? Ngapain? Tampil bentar doang tapi latiannya lama banget. Capek tau.”

“….”

Kadang kita terlalu mendengarkan komentar orang lain dalam menjalankan kehidupan kita. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun kita harus pintar dalam memilah mana yang omongan yang perlu didengarkan. Misalnya ketika akan pergi ke pesta, kita perlu mendengarkan pendapat orang lain agar menjadi lebih percaya diri. Tapi tidak berlaku untuk hal yang menjadi interest kita.

Ketika kita menginginkan sesuatu, seringkali kita terhalang oleh kemalasan kita sendiri. Misalnya ingin menjadi valedictorian, tetapi suka bolos, akhirnya gagal. Padahal sebenarnya mampu, namun lebih memilih untuk tidak mengikuti alurnya.

Padahal, semua yang sukses membutuhkan waktu. Sebut saja, misalnya, acara pameran, usaha startup, dan entertainer. Dibutuhkan persiapan yang banyak untuk menggelar sebuah pameran. Dibutuhkan etos kerja yang tinggi agar tidak mudah menyerah di tengah jalan yang panjang dalam mengembangkan startup. Dibutuhkan banyak pengorbanan dan latihan untuk dapat memuaskan penonton.

Tidak ada yang instan.

Bahkan mie instan pun perlu dimasak lebih dahulu agar dapat dimakan.

Dengan menetapkan tujuan yang jelas dan disertai dengan etos kerja yang tinggi, bukan tidak mungkin keinginanmu terwujud. Mungkin memang perjalanan tidak selalu mulus, ada kalanya mengalami kegagalan. Namun hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya. Ambil sebagai pelajaran, agar tidak terjatuh di lubang yang sama.

A smooth sea never made a skilled sailor.

Terus berusaha dalam menggapai mimpi dan jangan lupa berdoa agar cita-citamu terkabul!

AGE IS REALLY DOESN’T MATTER

Age is just a number. Semua hal dapat terjadi pada siapa saja saat ini. Dengan latar belakang yang beraneka ragam, semua orang dapat memiliki momen tertentu seperti mendapat pekerjaan pertama, mendapat penghargaan, melangsungkan pernikahan, maupun terbaring tak berdaya di rumah sakit.

Ada kalanya kita merasa tua ketika kita menua. Masa muda, kecantikan, ketampanan, dan semuanya dapat memudar dalam aliran waktu. Namun elemen tak berwujud dari dalam diri kita tidak boleh hilang. Semangat pantang menyerah, jiwa sosial, dan kreativitas menjadi kunci dalam menjalani hidup. Bahkan dengan menggenggam erat elemen tersebut,

kita bisa menjadi luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya.

Wajar apabila orang-orang menginginkan kita untuk tidak ataupun melakukan sesuatu sesuai dengan usia kita. Tapi dari dalam diri, kita harus memproteksi dengan mematahkan stigma mereka dan melakukan apa saja yang kita inginkan seperti burung bebas.

Tidak ada manfaatnya bagi diri kita apabila hanya mengikuti keinginan orang lain tanpa diikuti dengan keinginan kita sendiri, karena

mereka akan membuat kita tertekan hanya dengan mempergunakan usia kita.

Tidak ada kata terlambat atau terlalu tua untuk melakukan apa pun yang kita suka. Kita tidak seharusnya bergantung pada nomor usia untuk melakukan sesuatu. Selama kita melakukannya dengan hati yang lapang dan untuk hasil yang baik, terus lakukan. Bukan tidak mungkin apabila suatu saat nanti kita bisa menginspirasi orang lain!

Sabtu, 30 Juli 2016

Pagi itu, ketika bangun tidur, aku langsung menyadari bahwa hari tersebut adalah jadwal gladi bersih di masing-masing fakultas untuk acara Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB). Kemudian saja aku bersiap-siap membawa yang diperlukan dan juga datang sesuai jadwal seperti yang diinformasikan pada website yang sudah kulihat di hari sebelumnya. Perasaan senang dan juga bangga tak dapat disembunyikan karena diterima di fakultas impian sewaktu SMP, apalagi diterima melalui jalur tes tertulis SBMPTN.

Ps: Saat di SMA dengan pilihan jurusan mipa-ekonomi, saya memiliki banyak keinginan dan pertimbangan soal prodi kuliah seperti teknik arsitektur, pendidikan dokter, pendidikan dokter gigi, farmasi, akuntansi, bahkan ilmu psikologi dan ilmu hukum. Meski sudah memantapkan hati sejak awal semester lima untuk prodi akuntansi, seminggu sebelum pendaftaran SBMPTN saya kembali mendapat hidayah Sang Ilahi terakhir kalinya untuk mengambil prodi manajemen.

Aku segera menyambangi kelompokku setelah sampai di lokasi. Dari 36 kelompok se-fakultas, dibagi menjadi dua kloter untuk dua aktivitas yang berbeda yaitu keliling kampus dan technical meeting PPSMB fakultas. Kelompokku mendapat jatah keliling kampus terlebih dahulu. Kemudian saja aku berjalan dengan teman yang baru kukenal. Namanya Putri, asal Solo, teman duduk disebelahku. Aku mengobrol banyak sekali dengannya sambil berjalan mengikuti kakak pemandu. Meskipun lelah karena luasnya kampus kami dan beberapa kali juga menaiki tangga, aku merasa senang. Tidak pernah terbayangkan bahwa akan tinggal di tempat ini selama kurang lebih empat tahun. Fasilitas yang baik (mungkin terbaik) dan lingkungan yang asri membuat segera ingin merasakan kehidupan berkuliah disini.

Technical meeting PPSMB fakultas berlangsung lancar. Di fakultas kami, terdapat lagu-lagu dengan tarian wajib sehingga membuat suasana mengasyikkan. Kami diajak untuk ikut serta mencoba tarian dari lagu wajib SIMFONI  (PPSMB FEB) 2016. Gelak tawa pun bersahutan karena melihat bentuk satu sama lain saat menari. Tetapi keadaan yang girang ini tidak berlangsung lama, tiba-tiba saja kakak dari tim hitam datang membacakan tata tertib. Semua mendengarkan dengan khidmat.

Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan kembali di Plaza. Guyonan dan pengumuman singkat mengisi waktu kami menunggu gladi bersih PPSMB palapa. Setelah sholat, kami dikumpulkan berbaris sesuai gugus yang sudah diberitahukan sebelumnya. Keuntungan berpihak pada kami karena jarak menuju lapangan Pancasila (lapangan depan GSP) adalah yang terdekat daripada fakultas lain. Setelah sampai pada gugus masing-masing, kami menunggu kedatangan teman-teman kami yang lain yang berasal dari fakultas yang jauh.

Posisi kami tidak permanen, kerap kali bergeser. Posisi tempat dudukkupun terus berubah. Terakhir, aku duduk bersebelahan dengan Melati, asal Klaten. Aku juga mengobrol banyak dengannya, bahkan ada yang mengira bahwa kita berasal dari SMA yang sama. Waktu terus berjalan dan akhirnya gugus kami dipanggil masuk lapangan. Keadaan yang penuh sesak membuat suasana menjadi membosankan dan mengundang kantuk. Namun tak lama kemudian kakak mc mengajak kami menari dengan pompom dan juga gladi bersih human LED. Perjuangan kesabaran kami berbuah, kami merasa senang.

Kami memperkenalkan diri satu sama lain dalam satu gugus, setelah gladi bersih. Kami, gugus Suhardi Tjahjono 04, dipandu oleh kak Mia dan kak Pandu. Kakak-kakak pemandu mengumumkan informasi-informasi penting dan melayani tanya jawab. Setelah dipanggil untuk mengumpulkan pompom dan kertas asturo, kami dipersilakan untuk pulang. Lelahnya badan, tak menyurutkan semangat mengikuti PPSMB. Sungguh tak sabar untuk segera sampai di hari terakhir PPSMB saat gladi bersih kami tadi berubah menjadi penampilan menarik yang diliput dan disebar hingga seantero negeri.